Sejarah Perkembangan Ban, dari 3500 SM hingga Abad Ke-21

sejarah ban

Sejarah Perkembangan Ban, dari 3500 SM hingga Abad Ke-21 – Ban adalah salah satu komponen kendaraan yang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan saat ini, ban bukan hanya berakhir menjadi komponen kendaraan seperti ban mobil atau ban truk, ada juga ban yang dimanfaatkan sebagai dekorasi di cafe, atau untuk ban dalam truk dengan ukuran besar banyak digunakan sebagai pelampung. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ban di kalangan masyarakat modern sangatlah tinggi. Namun, pernahkan kalian memikirkan dari mana asalnya benda yang disebut ban atau tyre ini? Kali ini Top Trust akan membahas sejarah perkembangan mulai dari ditemukan, hingga saat ini di mana sudah sangat banyak variasi serta implementasi teknologi pada ban.

Membicarakan tentang sejarah berkembangnya ban, kita harus menoleh jauh ke belakang, tepatnya ribuan tahun sebelum Masehi. Dikutip dari berbagai sumber, para ilmuwan percaya bahwa konsep awal ban telah ditemukan sekitar 3500 SM. Pada abad ke-35 SM ini jangan dikira tidak ada peradaban ya. Itu adalah zaman di mana peradaban Mesir kuno dan kerajaan Uruk berdiri. Jadi, wajar jika manusia pada zaman itu sudah mulai berpikir dan berinovasi mengikuti kebutuhan mereka.

Sejarah Perkembang Ban

Abad Ke-35 Sebelum Masehi (3500 SM)

Pada tahun 3500 SM, tentunya konsep ban yang mirip dengan yang kita kenal saat ini belum ada. Pada saat itu, transportasi masih didominasi oleh kendaraan beroda kayu seperti kereta kuda dan gerobak. Namun, ada beberapa bukti bahwa ban sederhana digunakan pada waktu itu untuk mengurangi getaran dan keausan pada roda kayu.

Sejarah ban Roda kayu dan kulit
Roda Kayu dan Kulit

Bentuk awal dari ban pada periode ini terbuat dari bahan-bahan alami seperti kulit atau kayu. Mereka sering kali dibentuk dalam bentuk cincin atau lapisan yang ditempatkan di sekitar bagian luar roda. Ban ini bertujuan untuk melindungi roda kayu dari gesekan langsung dengan jalan yang keras dan tidak rata, serta memberikan sedikit peredaman getaran saat kendaraan bergerak.

Meskipun ban pada zaman itu jauh dari konsep modern, penggunaannya mencerminkan kesadaran manusia tentang perlunya melindungi roda dan meningkatkan kenyamanan perjalanan. Perkembangan lebih lanjut dalam teknologi ban baru terjadi ribuan tahun kemudian dengan penemuan ban pneumatik pada abad ke-19.

Sejarah Ban Pneumatik pada Abad Ke-19

Pada abad ke-19 ini sebenarnya ada beberapa penemu yang terlibat di dalamnya. Dimulai pada tahun 21 November 1843 di mana Thomas Hancock mendaftarkan temuannya tentang pengerasan karet menggunakan sulfur, dan akhirnya mendapatkan paten dari Inggris. Namun, sebenarnya pada tahun 1939 Charles Goodyear dari Amerika Serikat juga telah menemukan proses vulkanisasi secara tidak sengaja. Dia menemukan karet yang tahan panas dari sulfur yang bercampur dengan karet menempel pada kompornya. Akan tetapi, Goodyear kesulitan untuk mendaftarkan temuan dan mematenkannya. Alhasil, yang memperoleh paten terlebih dahulu adalah Thomas Hancock, sedangkan Charles Goodyear baru mendapatkan patennya pada 30 January 1844 dari Amerika Serikat.

Setelah ditemukannya metode vulkanisasi karet ini, diterapkanlah pada ban dan kita menyebutnya ban solid, di mana hanya mengandung karet pejal tanpa perlu diisi angin. Sampai hari ini, kita masih bisa melihatnya pada ban forklift yang masih banyak menggunakan ban solid. Adapun pada zaman abad ke-19, meskipun kuat, tahan tusukan, dapat meredam goncangan, dan dinilai sebagai perkembangan yang bagus dibandingkan ban kayu dan kulit, ban ini terlalu berat dan belum banyak mempermudah berkendara.

Pada tahun 1847 seorang engineer dari Skotlandia bernama Robert William Thomson menemukan desain ban berongga yang bisa diisi angin, atau biasa disebut dengan ban pneumatik. Dia berhasil mendapatkan paten dari Francis (1846) dan US (8 Mei 1847).

ban pneumatik pertama
Desain Ban yang Bisa Diisi Angin pada Paten Robert William Thomson

“Aerial Wheels” atau roda udara karya Thomson akhirnya didemonstrasikan di Regent’s Park, London, pada bulan Maret 1847 dan dipasang pada beberapa kereta kuda. Hasilnya benar-benar meningkatkan kenyamanan perjalanan dan mengurangi kebisingan. Satu set roda tersebut dapat berjalan sejauh 1200 mil tanpa menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Pada periode selanjutnya, tepatnya pada bulan Oktober 1887, John Boyd Dunlop mengembangkan ban pneumatik pertama untuk sepeda roda tiga putranya di halaman rumahnya di Belfast, ia memasangnya pada cakram kayu berdiameter 96 sentimeter. Dunlop sendiri mendaftarkan patennyapada 7 Desember 1888 dan resmi mendpaatkan paten pada Juli 1889.

Ban Sepeda Pertama Dunlop
Ban Sepeda Pertama Karya John Boyd Dunlop

Sayangnya, 10 bulan setelah itu, tepatnya pada November 1890 paten Dunlop harus dianulir karena telah ditemukan ada paten sebelumnya dari Thomson terkait ban penumatik.

Sejarah Ban Radial

Sejarah perkembangan ban tidak berhenti sampai di situ. Teknologi semakin maju, penelitian terkait karet dan ban juga terus dilakukan. Selama beberapa dekade, ban yang digunakan adalah ban yang sekarang kita kenal sebagai ban tubetype yang terdiri dari ban dalam berisi angin dan casing atau ban luar dari lapisan-lapisan yang disebut dengan “bias ply“. Pada tahun 1920-an, kebutuhan akan ban semakin terlihat nyata dengan semakin berkembangnya kendaraan berbahan bakar bensin. Akhirnya penelitian terkait bahan penyusun ban juga semakin gencar karena mahal dan terbatasnya bahan karet alami untuk memenuhi kebutuhan industri ban. Akhirnya ditemukanlah karet sintetis pada periode tersebut, dan semakin mendorong perkembangan ban di dunia.

Michelin X
Michelin X

Selanjutnya, setelah Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1946, Michelin mengembangkan metode pembuatan ban radial di mana hal ini menjadi langkah yang signifikan dalam perkembangan dunia. Michelin yang saat itu telah membeli perusahaan produsen mobil, dapat langsung mengimplementasikan inovasinya. Karena berefek pada peningkatan kenyamanan dalam pengendalian kendaraan dan iritnya bahan bakar, inovasi ini cepat menyebar ke seluruh Eropa dan Asia. Namun, Amerika Serikat sedikit terlambat mengikuti tren ini, hingga baru pada awal 1970-an saat perusahaan Ford Motor Company mengadaptasi ban radial sebagi ban utama mobilnya, tren ini menjalar ke Amerika Serikat. Hasilnya, milyaran ban diproduksi dan diperjualbelikan di seluruh dunia.

Sejarah Ban Tubeless

Beriringan dengan berkembangnya konstruksi radial dari Michelin, pada abad ke-20 ini juga ditemukan ban tubeless, di mana tidak lagi membutuhkan tube atau ban dalam. Dalam rentetan inovasi ban tubeless ini sebenarnya ada beberapa paten, seperti dari Killen Tire mengajukan paten pada tahun 1928 dan diberikan paten GB 329955 di Inggris pada tahun 1930 dan Wingfoot Corporation, anak perusahaan Goodyear Tire diberikan paten di Afrika Selatan pada tahun 1944. Akan tetapi dari desain keduanya ditemukan kegagalan teknis sehingga tidak diproduksi secara terus-menerus dan bahkan diberhentikan.

Pada akhirnya, Frank Herzegh yang bekerja untuk BF Goodrich mengajukan paten untuk temuannya pada tahun 1946. Kemudian, pada tahun 1952, dia menerima paten AS 2587470 di Amerika Serikat. Pada tahun 1955, ban tubeless menjadi bagian standar dari mobil baru. BF Goodrich harus mempertahankan patennya melalui beberapa persidangan pengadilan karena ada kesamaan desain sebelumnya. Salah satu perbedaan utama antara desain BF Goodrich dan pendahulunya adalah penggunaan karet butil yang lebih tahan terhadap kebocoran udara dibandingkan dengan karet alam yang digunakan pada desain lainnya.

Sejarah RFT (Run Flat Tire)

Inovasi selanjutnya dalam dunia ban adalah run flat tire (RFT) atau ban yang tetap bisa digunakan meskipun tanpa angin di dalamnya hingga batas tertentu. RFT sebenarnya sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Michelin. Berbasis teknologi pada roda troli dan komuter, Michelin mengembangkan ban yang memiliki pelek pengaman di dalamnya dan jika tertusuk tetap akan bisa berjalan di atas lapisan busa khusus. Namun, ban tersebut hanya dijual untuk penggunaan militer dan untuk kendaraan khusus seperti mobil lapis baja bank karena memang harganya yang terlalu tinggi sebagai ban mobil pribadi.

Run Flat Tire pertama
Run Flat Tire Pertama untuk Militer

Run Flat Tire sendiri akhirnya diperjualbelikan secara bebas ke masyarakat umum mulai tahun 1980-an. Produsen-produsen besan ban seperti Bridgestone, Dunlop, Pirelli, maupun Goodyear juga sudah banyak memproduksinya. Bahkan beberapa ban mobil BMW juga beberapa sudah memakai RFT sebagai standarnya dan disuplai oleh beberapa brand terkenal. Untuk mengetahui lebih banyak terkait RFT, Anda bisa membacanya di artikel Top Trust “Mengenal Run Flat Tire (Bisa Dipakai Tanpa Angin)“.

Perkembangan Ban pada Abad Ke-21

Abad 21 adalah abad di mana teknologi benar-benar berkembang luar biasa. Kecanggihan dan kemutakhiran teknologi benar-benar masuk ke segala lini kehidupan masyarakat, tidak terkecuali transportasi dan berakhir pada urusan ban. Setelah ditutup dengan adanya run flat tire yang dapat tetap digunakan meskipun tanpa angin, manusia akhirnya semakin berusaha mencari cara bagaimana bisa mendapatkan ban yang benar-benar aman dan bisa digunakan tanpa angin, namun tetap ringan dan tidak menyulitkan berkendara. Jadi bisa dibilang ingin menggabungkan apa yang ada di masa lalu, ban tanpa angin, akan tetapi dengan kenyamanan penggunanya seperti ban pada abad 20.

Lagi-lagi Michelin menjadi perusahaan ban dengan inovasi yang luar biasa. Dimulai dari diluncurkannya VISION Concept pada tahun 2017 yang mengusung ban dengan konsep ramah lingkungan namun tetap memberikan kenyamanan pada penggunanya, muncullah NPT atau Non-Pneumatic Tyre. Ban ini tidak lagi menggunakan angin, namun tidak berasal dari karet vulkanisir yang berat seperti ban solid. Begini penampakan bannya.

UPTIS Tyre
UPTIS – Non-Pneumatic Tyre dari Michelin

Sebenarnya konsep ban ini sudah dikembangkan sejak tahun 2005, namun masih memiliki banyak sekali kekurangan dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Setelah itu, perusahaan-perusahaan lain seperti Bridgestone, Hancock, dan Goodyear juga mulai mengembangkan teknologi NPT mereka sendiri. Semuanya berlomba-lomba untuk menghadirkan ban tanpa angin “Airless Tyre” yang sempurna.

Selain itu, inovasi seperti rechargeable tread atau telapak ban yang dapat diisi kembali menggunakan printer 3D juga mulai dikembangkan. Jadi, pengguna bisa mengganti tread dari bannya menggunakan printer 3D dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan medan juga. Bahkan ke depannya juga semuanya akan terkoneksi dengan aplikasi, seperti detektor pada roda dan ban, pola seperti apa yang dibutuhkan untuk medan yang sedang dilalui. Ini semua sudah menjadi milestone dari tiap-tiap perusahaan ban di dunia. Jadi ke depannya, ban Bridgestone, ban Dunlop, ban Giti, dan ban mobil lainnya kemungkinan besar akan terintegrasi dengan sistem masing-masing perusahaan.

Demikianlah sejarah perkembangan ban yang dimulai dari kayu dan kulit tanpa angin, menjadi ban berisi angin, dan kembali dertujuan mencari solusi untuk ban tanpa angin namun dengan kenyamanan lebih untuk penggunanya.

Penulis